Jul 12, 2007
Kebudayaan dan Post-modernitas

Pertarungan sengit antar sektor, lintas budaya dan meta pikiran yang terbungkus dalam kepercayaan, tradisi dan consensus radikal dibongkar dan dinegasikan. Qou vadis adalah petunjuk bagi terciptanya era baru. Otonomisasi dan dominasi lokal mensubstitusikan dominasi dan dimensi imperialistik. Pada tahapan ini kebudayaan terutama kaitannya yang erat dengan permasalahan episteme menjadi primer.

 

Filsafat yang selama kehilangan legitimasi sebagai perimadona ilmu secara tak terelakkan berdiaspora dalam merambah lahan atau penjelajahan secara baru dan bervariasi. Post-modernisme menafikan kebenaran. Sikap kritis menjadi primadona, epistemology dikritisi dan didalulat mereduksi kebenaran dan mengangkat pluralisme.ke permukaan.

 

Pluralisme sebagai produk pemikiran dari abad-abad sebelumnya yang mendewakan logo-sentrisme dan klaim universalitas menampak jalan baru, terapheutik bagi pembebasan melalui kelahiran multi organisme dan perspektif baru. Dalam pluralisme kisi-kisi atau ruang gelap yang tidak dikenal dan aktus ketersembunyiaan, alethe, memanifestasikan diri dengan cara tertentu tanpa suatu ketentuan umum berlaku untuk semua. Masing-masing dengan otonomi dan dinamika serta manifestasinya dalam suatu totalitas, dan totalitas signifikasi diri sebagaimana dimaksudkan St. Agustinus. Satu dalah semua dan semua dalam satu. Suatu paradigme tumbang.

 

Dalam dunia kontemporer terutama dalam wilayah filsafat atau tempatnya epistemologi keharusan lahirnya suatu revolusi sebagaikaman dikonstatir Thomas Kuhn merupakan tuntutan yang mendesak. Paradigma pengetahuan dalam pluralisme sebagai suatu aliran yang membongkar secara radikal dan total serta revolusioner segenap klaim kebenaran tunggal atau objektif ilmu pengetahuan dan universalitas.

 

Dalam pada ini narasi agung seperti kekuasaan, kebebasan dan berbagai konsep, ketegori buah pemikiran dan filsafat didongkrak. Sakralitas konsep dituduh telah memenjarakan pemikiran. Dogmatisme dibongkar. Manipulasi dibeberkan. Manusia dibebaskan dari belenggu pemikiran yang menghambat dan menolak determinisme. Visi emansitoris menjadi obsesi dan filsafat yang terseret ke dalam tradisi obskuritas metodis. Objektivitas secara ketat digugat.

 

Dalam dunia kotemporer tepatnya pada abad XXI, suatu orientasi dan komitmen dan paradigma baru dibutuhkan untuk mencairkan kebekuan yang telah terwariskan  selama berabad-abad semenjak Descartes, yaitu pluralisme, suatu metoda pemikiran yang mengutamakan peluang dan kemungkinan bagi lahirnya wilayah khusus, spesifikasi internal, karakteristik isoterik lokal(sui generis) tiapa-tiap wacana dan lalulintas argumentasi serta legitimasi untuk hadir dan diakui eksistensi dan otonominya. Penghargaan pada realitas tersebut perlu dihargai.

 

Ciri zaman ini bukan pula terbentuknya suatu meta-wacana yang mempersatukan dan mendasari sebaga wacana lainnya, melainkan keseragaman narasi kecil dan meta argumen yang saling mencari peluang dan isi mengisi untuk tampil kokoh, otonom dan diakui dalam percaturan bahasa...

 

Kembali


Posted at 11:44 pm by moan_bb
Make a comment